Menguatkan HOTS dan Computational Thinking Berbasis Etnomatematika Kepulauan, Program Studi Pendidikan Matematika PSDKU UNPATTI Kab. MBD Gelar Seminar Nasional

Maluku Barat Daya, 15 Juli 2026 – Program Studi Pendidikan Matematika PSDKU Universitas Pattimura (UNPATTI) Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas pendidikan matematika melalui penyelenggaraan Seminar Nasional bertema “Inovasi Asesmen Berbasis HOTS untuk Mengembangkan Computational Thinking dalam Mewujudkan Generasi Unggul di Pulau-Pulau Kecil Perbatasan”. Kegiatan yang berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting pada Rabu (15/7/2026) ini diikuti oleh 90 peserta yang terdiri atas dosen, guru, mahasiswa, dan praktisi pendidikan dari berbagai provinsi, yaitu Aceh, Kalimantan Utara, Maluku, Papua Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Utara. Seminar nasional ini menjadi wadah kolaborasi akademik untuk memperkuat kapasitas pendidik dalam mengembangkan pembelajaran matematika yang berorientasi pada Higher Order Thinking Skills (HOTS) dan Computational Thinking (CT), sekaligus mendorong pemanfaatan budaya lokal sebagai konteks pembelajaran yang bermakna.

Komitmen Mengembangkan Pendidikan Matematika Berbasis Etnomatematika Kepulauan

Dalam sambutannya, Koordinator PSDKU UNPATTI Kab. MBD, Dr. Abraham Mariwy, S.Pd., M.Si., menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan inovasi pendidikan yang mampu menjawab tantangan wilayah kepulauan dan perbatasan. Menurutnya, keterbatasan geografis bukan menjadi penghalang untuk melahirkan sumber daya manusia yang unggul, melainkan menjadi peluang untuk menghadirkan model pendidikan yang kontekstual dan relevan dengan karakteristik daerah.

Visi Keilmuan Menjadi Arah Pengembangan Program Studi

Sebagai bagian dari kegiatan seminar, Program Studi Pendidikan Matematika memperkenalkan visi keilmuan program studi, yaitu:“Mengembangkan Pendidikan Matematika berbasis Etnomatematika Kepulauan untuk menghasilkan lulusan yang unggul, kompetitif, berkarakter, dan berbudaya pulau-pulau kecil perbatasan.” Visi tersebut menjadi arah dalam pelaksanaan tridarma perguruan tinggi, khususnya dalam pengembangan pembelajaran matematika yang mengintegrasikan budaya lokal dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Melalui pendekatan etnomatematika kepulauan, program studi berupaya menghasilkan lulusan yang mampu bersaing secara global tanpa kehilangan identitas budaya lokal.

Menghadirkan Narasumber Nasional

Seminar nasional menghadirkan Prof. Dr. Aryadi Wijaya, M.Sc., Guru Besar Pendidikan Matematika Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), sebagai narasumber pertama. Dalam paparannya, beliau menjelaskan bahwa CT merupakan salah satu kompetensi esensial abad ke-21 yang perlu dikembangkan melalui pembelajaran matematika. Menurutnya, peserta didik tidak hanya dituntut mampu menyelesaikan perhitungan, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, logis, dan sistematis melalui empat komponen utama, yaitu decomposition, pattern recognition, abstraction, dan algorithm. Beliau juga menekankan bahwa pemanfaatan teknologi harus diarahkan untuk memperdalam pemahaman konsep dan mendukung pembelajaran yang bermakna.

Narasumber kedua, Dr. Hasan Jidu, M.Pd., dosen Universitas Negeri Makassar (UNM), membahas transformasi asesmen berbasis HOTS. Beliau menegaskan bahwa asesmen tidak lagi berorientasi pada pemberian nilai semata, tetapi harus mampu memetakan profil kemampuan peserta didik secara komprehensif. Dengan demikian, guru dapat merancang strategi pembelajaran yang lebih tepat sasaran melalui penerapan asesmen diagnostik dan assessment for learning, sehingga proses pembelajaran benar-benar mendukung perkembangan kompetensi setiap peserta didik.

Pada sesi terakhir, Michael Inuhan, S.Pd., M.Sc., dosen Program Studi Pendidikan Matematika PSDKU UNPATTI Kab. MBD, memaparkan implementasi etnomatematika kepulauan sebagai pendekatan kontekstual dalam pembelajaran matematika. Melalui pemanfaatan budaya lokal Maluku Barat Daya, seperti tari tradisional dan situs budaya, beliau menunjukkan bagaimana kearifan lokal dapat diintegrasikan ke dalam penyusunan soal berbasis HOTS dan CT. Pendekatan tersebut tidak hanya melatih kemampuan berpikir tingkat tinggi peserta didik, tetapi juga memperkuat identitas budaya lokal sebagai bagian dari pembelajaran yang bermakna.

Seminar berlangsung interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab. Peserta dari berbagai daerah berbagi pengalaman mengenai implementasi HOTS, CT, serta pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam pembelajaran matematika. Berbagai rekomendasi juga dihasilkan, di antaranya penguatan asesmen diagnostik, pengembangan modul pembelajaran berbasis budaya lokal, serta perluasan jejaring kolaborasi akademik dalam meningkatkan kualitas pendidikan di wilayah kepulauan dan perbatasan. Melalui penyelenggaraan seminar nasional ini, Program Studi Pendidikan Matematika PSDKU UNPATTI Kab. MBD menegaskan komitmennya untuk terus menjadi pusat pengembangan pendidikan matematika yang inovatif, adaptif, dan berakar pada visi keilmuan etnomatematika kepulauan. Kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, guru, mahasiswa, dan praktisi pendidikan dalam menghasilkan pembelajaran matematika yang berkualitas serta relevan dengan kebutuhan masyarakat kepulauan di era transformasi digital.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

nineteen + 1 =